JALAN KELUAR untuk PIKIRAN

Sayadaw U Osadha - ISMC Jakarta
 
Dalam situasi mendesak atau sulit, orang biasanya mencari jalan keluar. Jika tidak ada jalan, atau orang memilih mengabaikan atau menekan persoalannya, situasinya akan menjadi lebih buruk. Balon yang ditiup terlalu keras akan meletus karena tidak ada tempat bagi udara untuk mengalir. Demikian pula dengan pikiran yang tanpa saluran keluar yang aman akan meledak ketika stress atau emosi tidak baik lainnya menguasai seseorang. Sebagai akibatnya, orang bisa menjadi gila.

Oleh karena itu penting untuk mencari jalan keluar mental. Buddha menggunakan kata Pali NISSARANA untuk menunjuk jalan keluar itu. Beliau menunjukkan kegunaannya untuk membebaskan diri dari emosi atau stress yang kuat – dengan mengajar kita cara yang mudah diingat dan dipraktikkan. Dalam kehidupan sehari-hari saat kita menghadapi rintangan mental, kita harus berusaha menemukan dan menggunakan jalan keluar ini. Dengan cara itu, kita dapat menyingkirkan persoalan-persoalan kita. Bahkan mungkin pada akhirnya kita mencapai suatu keadaan kebebasan mental. Pada titik itu, pikiran kita tidak akan pernah mendapatkan dirinya tertekan. Ia tak akan pernah lagi ditekan oleh stress atau persoalan mental lainnya.

Sekarang ini banyak orang berjuang keras untuk sejahtera dan sukses: untuk mencapai standar kelas dunia serta kesejahteraan, untuk menyaingi status orang ini atau itu. Banyak yang berujung dengan stress dan persoalan emosi lainnya. Banyak barang telah ditemukan untuk membawa kemudahan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari kita. Sekarang kita dapat bepergian dengan nyaman dalam waktu singkat ke berbagai tempat di negeri kita, atau ke negara mana pun di dunia. Berbagai barang mewah dan kebutuhan sehari-hari selalu bertambah. Lebih banyak mereka tersedia, lebih besar stress yang dihadapi masyarakat.
Dengan kemajuan di zaman modern ini, apakah kebahagiaan juga sudah meningkat di dalam batin kita? Bukannya kebahagiaan, melainkan stress dan penyakit terkait yang meningkat. Mengapa demikian? Sangatlah baik untuk menemukan penyebabnya.

Menurut Buddha, keserakahan atau LOBHA seseorang tidak pernah bisa dipuaskan. Berusaha memenuhi keserakahan sendiri bagaikan berjalan di jalur tanpa akhir. Manusia selalu menginginkan ini atau itu. Buddha mengatakan ‘ATITTO LOKO’. Manusia tidak pernah puas. Tidak peduli betapa berkecukupannya mereka, mereka tidak pernah puas. Betapa gigihnya mereka berjuang menjadi lebih baik untuk mendapatkan lebih banyak, kebutuhan mereka tetap saja ada.
Jadi bersamaan dengan peningkatan kebutuhan hidup dan kemewahan, meningkat pula persoalan stress dan yang terkait. Lihatlah di dunia: inilah yang terjadi di mana-mana.

Beruntung ada Buddha dengan cara efektif yang diajarkan dalam ceramah-ceramah Dhamma Beliau. Mereka yang berkesempatan belajar dan mempraktikkannya, bisa meringankan kondisi mereka.
Saat ini stress meningkat di negara-negara yang ekonominya maju. Tidak mengenal cara Buddha, orang harus mencari berbagai tehnik untuk mengurangi stress. Para ahli muncul dengan berbagai cara. Salah satu jalan adalah melalui praktik psikoterapi dan psikiatri oleh para terapis dan psikiater. Berkah bahwa Ajaran Buddha dikenal baik di seluruh Myanmar, biasa bagi umat Buddha untuk bermeditasi ketenangan dan karena itu meringankan stress mereka serta penyakit yang terkait. Ini melalui pikiran benar mereka tentang apa yang Buddha ajarkan.

Bagaimana Buddhis Myanmar dapat menyembuhkan diri mereka dari persoalan ini? Merek hampir semua memiliki pikiran benar: ‘SABBE SANKHARA ANICCA”, bahwa semua yang berkondisi tidaklah kekal. Mereka juga tau bahwa pengharapan mereka tidak selalu dapat dipenuhi, dan sebagainya. Apa yang diajarkan Buddha secara perlahan telah meresap ke dalam hati dan pikiran mereka sejak masa Pagan, ketika Buddha-Dhamma pertama kali tiba di Myanmar. Dari orangtua, kerabat dan para guru, generasi demi generasi telah mendengarkan nasihat Buddha.

Melalui pemikiran “Semua yang berkondisi tidaklah kekal”, “Segala sesuatu tidak selalu sesuai dengan harapan”, atau “Segala sesuatu bersifat ANATTA atau tak dapat dikendalikan,” mereka yang stress bisa disembuhkan. Dengan cara ini, mereka sudah menemukan jalan keluar mental.
Ada beberapa tamu yang datang ke Myanmar dan mengamati bahwa masyarakat di sini tampaknya hidup berbahagia tanpa banyak stress dan ketegangan mental. Mengapa mereka bahagia? Sederhana, karena Buddha-Dhamma. Dengan berlindung di bawah keteduhan Ajaran Buddha, masyarakat Myanmar telah menemukan jalan keluar mental.

Di beberapa Negara orang harus belajar tentang penurunan stress, mengambilnya sebagai mata kuliah di universitas: Penurunan Stress Berlandaskan Perhatian Penuh (dalam bahasa Inggris: MBRS kependekan dari Mindfulness-based Stress Reduction). Berkaitan dengan psikologi, ia merupakan bagian dari pendidikan modern.
Yang sama dengan penurunan stress berlandaskan perhatian penuh di Myanmar adalah ceramah Buddha dalam MAHASATIPATTHANA. Karena masyarakat di sini mempunyai kesempatan mengikuti tehnik Beliau, mereka hampir tidak pernah stress dalam waktu lama. Ini karena mereka memanfaatkan jalan keluar mental yang telah ditunjukkan oleh Buddha dalam sutta-sutta Beliau.

Pada bangunan yang sangat besar di mana banyak orang berkumpul seperti pasar raya atau bandar udara, pintu keluar sangat diperlukan, terutama pintu darurat. Mereka yang bepergian dengn pesawat udara mungkin sudah melihatnya. Seandainya timbul keadaan tidak diharapkan atau bahaya, orang dapat menyelamatkan diri dengan menggunakan pintu itu. Jalan keluar mental juga sama pentingnya.

Ketika cara untuk melepaskan ketegangan dan tekanan mental tidak ada, persoalan akan menjadi lebih buruk. Pintu keluar yang benar yang harus diambil adalah merenungkan untuk melihat segala sesuatu sebagai mereka adanya.
Untuk alasan itulah hari ini saya menjelaskan tentang di manakah “pintu keluar pikiran” ini dapat ditemukan. Jika seseorang berada di dalam gedung yang besar mau mencari jalan keluar, ia hanya harus mencari di dalam gedung itu saja. Setelah menemukan pintu keluar ia bisa keluar. Sama halnya jika seseorang menderita stress, di manakah ia harus mencari jalan keluar bagi kondisinya? Dengan pikiran yang ditutupi oleh stress, bagaimana ia keluar darinya? Seperti orang yang berada di gedung besar tadi, kita harus mencari di dalam pikiran kita, dan bukan di mana pun di luar.
 

NISSARANA SUTTA

Dalam sutta ini Buddha mengajarkan tentang enam macam jalan keluar dari pikiran. Seandainya pikiran dihadapkan pada bentuk stress dan ketegangan mental apa pun, Buddha telah menunjukkan pada kita jalan yang benar untuk keluar darinya. Dengan mengikuti tehnik Beliau, tak seorang pun kepalanya akan meledak dan menjadi gila.
Banyak orang di dunia –yang tidak berkesempatan menemukan Ajaran Buddha— tidak menyadari bahwa jalan keluar seperti itu ada. Apakah mereka meremehkan atau tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Buddha, mereka malah sebaliknya mengikuti gagasan mereka sendiri. Mereka mengikuti bayangan keliru mereka sebagai jalan keluar dari problem mental mereka.

Sekarang ini beberapa diantara generasi muda cenderung menderita stress dan depresi ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan. Lalu mereka tidak tahu bagaimana mengontrol atau mengendalikan pikiran mereka, mereka meledak atau menjadi gila. Dihadapkan pada stress dan ketegangan, apa yang mereka lakukan? Tidak mendapatkan solusi siap pakai, beberapa menggunakan obat-obatan, obat tidur, dan minuman keras, atau minum alkohol sebagai sarana untuk melarikan diri.

Mereka mencoba melarikan diri dari persoalan mereka tanpa mencari akar penyebabnya. Mereka bukannya langsung menangani kesulitan-kesulitan mereka, sebaliknya malah mencari kelegaan sementara. Jalan keluar seperti ini bukan jalan yang sejati karena ia tidak bisa memecahakan kesulitan-kesulitan mereka. Sebaliknya memunculkan persoalan lain, yang akan diikuti lebih banyak lagi. Situasi buruk bahkan menjadi lebih buruk: yang awalnya satu problem, sekarang menjadi dua atau lebih –semua karena tidak memilih jalan keluar yang benar.

Sebagai contoh seseorang yang mempunyai kebiasaan mengunyah buah pinang. Ia ingin menghentikan kebiasaan ini tetapi merasa sulit. Ia menggantikannya dengan merokok, dengan berpikir merokok bisa menggantikan mengunyah pinang. Dalam hal ini ia menjadi kecanduan pada keduanya. Sekarang ia tidak hanya mengunyah sirih, tetapi juga merokok.

Dalam mencari jalan keluar untuk pikiran, jika kita menggunakan minuman berakohol atau obat terlarang, kita membangun lebih banyak problem untuk diri kita sendiri. Cara sementara seperti itu bukan jalan keluar sejati untuk stress dan persoalan-persoalan emosi lainnya. Hanya yang Buddha ajarkan yang cukup tajam dan efektif untuk membantu mengatasi persoalan.
 

Jalan Keluar untuk Kebencian

Kadang-kadang sesuatu tidak terjadi sesuai dengan pengharapan kita. Jika ketidak-puasan kita berkembang, pikiran akan meledak dengan kebencian dan keinginan jahat. Kedamaian pikiran dirusak. Dalam kemarahan kita kehilangan ekspresi kita yang cerah dan menyenangkan. Wajah berubah jelek.

Ketika kebencian dan keinginan jahat muncul dalam pikiran, beberapa orang memilih jalan keluar yang salah –dengan melakukan sesuatu yang buruk— untuk memuaskan kemarahan mereka. Membenci seseorang mereka meneriakkan makian atau bahkan memukulnya. Orang ini mungkin berpikir kelakuan mereka merupakan pintu keluar kebencian, tetapi sesudah itu timbul persoalan baru. Buddha mengatakan, “jalan keluar sejati bagi keinginan jahat dan kebencian adalah METTA atau cinta-kasih.” Kita seharusnya mengembangkan METTA untuk orang yang kita benci. Hanya METTA yang dapat menyingkirkan kebencian secara mulus dan menyeluruh.

Dalam DHAMMAPADA Buddha menasihati kita, ”Kebencian tidak bisa disingkirkan dengan kebencian.” Misalnya ada benda yang terbungkus sampah. Untuk membersihkannya, jika kita lakukan dengan menggunakan lebih banyak kotoran, ia akan menjadi lebih kotor. Hanya air yang dapat membersihkan kotoran itu. Demikian pula dengan kebencian dan keinginan jahat yang muncul dalam pikiran: kita perlu METTA untuk melenyapkan mereka. Inilah jalan keluar sebenarnya bagi kebencian.
Apa yang Buddha katakan sebenarnya adalah, “NISSARANAM ETAM BYAPADASSA YADIDAM METTA CETO-VIMUTTI.” Metta yang menghilangkan kebencian adalah jalan keluar untuk emosi ini.

Ketika muncul kebencian dalam diri kita, ia membakar hati kita. Kita tidak menyukai perasaan terbakar ini karena ia sangat tidak nyaman. Sebaliknya jika kita ingin selalu damai, maka kita seharusnya mengganti rasa panas ini dengan METTA karena ia adalah jalan keluar sejati bagi kebencian. Dengan mengembangkannya, kebencian dan keinginan jahat tak dapat bertahan dalam hati. Inilah cara praktis yang diajarkan oleh Buddha lebih dari 2.550 tahun yang lalu.

Anda harus mencatat bahwa METTA mempunyai derajat dan tingkat kekuatan yang berbeda. METTA yang tampak dalam masyarakat untuk satu dan yang lainnya merupakan bentuk dasar atau umum. Meski tidak kuat ia tetap penting. Tetapi melalui praktik yang sistimatis, jenis yang kuat bisa diperoleh.
Olah raga diperlukan untuk menguatkan tubuh. Olahragawan seperti pesepak-bola dan pelari memerlukan latihan yang begitu teratur. Demikian pula praktik yang teratur diperlukan untuk mengembangkan METTA. Pertama ia harus disemai di hati. Selanjutnya kekuatannya dikembangkan melalui latihan mental.
Apakah METTA itu? Bagaimana mengembangkannya? Cinta-kasih itu mirip cinta dengan nafsu atau TANHA-RAGA. Oleh karena itu ia bisa disalah-artikan sebagai TANHA-RAGA. Ia juga bisa bergabung bersama cinta dengan nafsu. Ketika dua orang jatuh cinta, mereka menyukai satu sama lain. METTA tentu mengambil bagian juga di samping yang ditujukan pada semua makhluk hidup --itulah sifat aslinya.

Karena RAGA dan METTA hampir mirip, sangatlah sulit untuk mendapatkan cinta-kasih yang murni sejati. Kadang-kadang RAGA bisa tampil sebagai METTA, menipu kita untuk berpikir bahwa itu adalah METTA. Ada banyak keadaan mental yang buruk yang tersamar sebagai baik.
Menurut Shwegyin Sayadaw 1), “RAGO METTAYA VANCETI,” nafsu menipu seseorang berpikir bahwa itu adalah METTA. Jadi kita harus berhati-hati dengan RAGA dan METTA. METTA adalah demi manfaat semuanya. TANHA sebaliknya hanya untuk diri sendiri. METTA bisa berkorban untuk yang lain, sebaliknya TANHA tidak.
Ada dua jenis cinta: jenis TANHA yang membakar hati, sedangkan jenis METTA menenangkannya. METTA tidak memiliki kemelekatan. Ia hanya mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan pihak lain. Cinta-kasih untuk pihak lain; TANHA hanya untuk diri sendiri.

Coba renungkan: ketika orang berkata, “saya mencintaimu,” apakah itu benar-benar cinta? Pada dasarnya itu bukan cinta yang mereka miliki untuk orang tadi. Sesungguhnya kebahagiaan mereka sendirilah yang mereka cintai. Banyak orang salah mengerti hal ini. Misalnya, ibu mencintai anaknya dan demikian pula ayah. Bagaimana pun jika putra atau putri yang begitu dicintai oleh orangtuanya tidak mematuhi mereka, apakah mereka tetap akan mencintai anak itu? Mereka tidak dapat melakukan hal itu karena mereka hanya mencintai kebahagiaan mereka sendiri –kebahagiaan ini mereka peroleh sebagai hadiah dari anak mereka. Kalau anak ini merusak kebahagiaan orangtuanya, mereka bahkan mungkin mengumumkan di koran, “Si Anu bukan lagi putraku.” Mengapa mereka mencabut hak waris anak mereka? Itu karena ia sudah tidak bisa memenuhi kebahagiaan mereka, ia sungguh telah menghancurkannya. Karena mereka sudah tidak lagi mendapatkan kepuasan dari anak mereka, “Pergi!” kata mereka saat mengusir anaknya.

Jadi jenis cinta TANHA cukup berbeda dari jenis METTA. METTA tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri, hanya kebahagiaan pihak lain. Ia mengharapkan kesejahteraan pihak lain tanpa kemelekatan atau kepentingan pribadi.
Apakah arti akar kata METTA? Kata ini berasal dari “MITTA” atau teman. MITASSA ESA METTA, yaitu METTA adalah sikap seorang teman.
Hampir semua orang mempunyai teman. Kita berbahagia bertemu seorang teman. Ia adalah seseorang yang dengannya kita senang mengobrol, berbagi makanan atau tinggal bersama. Kita memperhatikan kepentingan teman kita. Inilah cinta kasih. Sifatnya ADOSA atau tanpa kebencian, bebas dari kebencian. Tentunya ia merupakan jalan keluar di dalam hati. Tetapi hanya dengan praktik kekuatannya bisa meningkat. Tanpa praktik ia tidak bisa menjadi kuat.

Bagaimana mempraktikkan cinta-kasih? Ia harus menggunakan satu objek. Untuk meningkatkan kekuatan pikiran, kita harus praktik dengan satu objek. Untuk menajamkan sebilah pisau, kita perlu menggunakan batu asah atau penajam pisau. Demikian pula METTA “dipertajam” pada satu objek.
Bagaimana ia dilakukan telah jelas diterangkan dalam VISUDDHIMAGGA. Yaitu harus mengembangkan METTA secara sistimatis dengan menggunakan satu teknik. Yang lainnya ketika orang berkata, “Semoga anda sehat dan bahagia” adalah cara yang umum. Mengembangkan METTA secara metodis tidaklah melalui pengharapan umum “SABBE SATTA AVERA HONTU,” atau melalui pengalunan di depan altar.

Untuk mengembangkan cinta-kasih anda harus mengikuti meditasi METTA. Pertama anda memilih objek anda. Memilih orangnya adalah sangat penting dalam mempraktik meditasi. Ia harus seseorang yang anda peduli, misalnya, teman dekat.
Orang itu harus masih hidup untuk dijadikan objek. Jangan pernah memilih atau mengembangkan METTA pada seseorang yang sudah meninggal. Ia tidak lagi berada dalam kehidupan yang anda ketahui, tetapi sudah berada di kehidupan lain. Oleh karena itu METTA anda tidak mengenai sasaran. Maka anda tidak akan berhasil mencapai absorpsi atau JHANA.

Dalam pilihan anda terhadap mereka yang masih hidup, ada tiga kategori:
Seseorang yang sangat dicintai
Seorang asing atau seseorang di mana anda bersikap biasa
Seorang musuh atau seseorang yang anda benci.

Pada umumnya, setiap orang mempunyai tiga tipe orang seperti ini. Dari yang tiga ini, mana yang pertama harus anda pilih untuk memulainya? Jangan memulai dengan orang yang tidak dikenal untuk mengembangkan METTA. Mungkin akan sulit mengembangkan cinta-kasih kepadanya karena ketidak-acuhan anda. Jadi jangan memilih orang asing sebagai objek pertama anda. Juga kalau anda memilih seorang musuh atau seorang yang anda benci, sebaliknya kebencian yang akan berkembang. Anda tidak dapat menyebarkan cinta-kasih kepadanya. Untuk kemudahan pengembangan METTA, pilihlah seseorang yang anda cintai. Tetapi anda harus berhati-hati agar memilih seseorang yang berjenis kelamin sama, bukan lawan jenis. Misalnya jika anda seorang pria, pilihlah teman pria anda. Seorang wanita harus memilih teman wanita. Jika seorang pria memilih lawan jenis, bukannya METTA tetapi ada resiko TANHA-RAGA akan muncul.

Setelah memilih, anda siap menyebarkan METTA dalam hati anda pada orang ini. Bagaimana pun pada awalnya sangat membantu untuk mempunyai pembanding yang memungkinkan anda memiliki sikap yang benar. Karena orang pada umumnya menganggap diri mereka nomer satu, jadi di awal, anda harus melihat pada diri anda sendiri: “Semoga saya sehat dan bahagia,” dan sebagainya.

Lalu perhatikan objek yang anda pilih dengan menfokuskan wajah teman anda dalam batin. Jika perlu, gunakan foto yang anda tempatkan di depan anda untuk membantu anda menggambarkan wajahnya –tersenyum atau dengan wajah yang menyenangkan. Dengan memandanginya anda mengharapkan demikian: “Semoga engkau bahagia,” “Semoga engkau sehat.” Anda bisa menggunakan kata apa saja yang anda rasa nyaman: misalnya, “Semoga engkau bisa selalu tersenyum, bahagia, sehat dan sukses.” Ini dilakukan berulang-ulang kali. Sekali saja tidaklah cukup. Seperti lagu yang mempunyai bagian ulangan, METTA juga sama dalam hal pengulangannya. Berapa kali anda harus mengulangi? Jika anda praktik selama satu jam, berarti anda harus mengulangi sepanjang waktu itu. Dengan cara ini seperti menggosok pisau pada batu asah untuk menajamkannya, anda menerapkan METTA anda: “Semoga engkau bahagia” dan sebagainya dalam batin anda.

Dengan praktik berkesinambungan anda sampai pada satu tahap di mana anda melihat orang itu dalam batin di mana pun anda berada. Bahkan sebelum anda terlelap anda tetap melihat wajahnya, sehingga anda tidak begitu banyak melihat hal lainnya. Fokus padanya sebagai NIMITTA atau gambaran mental sehingga anda bisa mengkonsentrasikan pikiran anda. Dengan cara itu ia menjadi tenang. Pada titik ini jika anda melanjutkan memakai METTA, kekuatan SAMADHI atau konsentrasi yang berkembang, bisa menimbulkan JHANA, keadaan terabsorpsi.

Beberapa orang Myanmar mempunyai kesan bahwa JHANA adalah tentang terbang di langit. Tetapi sesungguhnya tidaklah begitu. JHANA adalah kekuatan konsentrasi yang dikumpulkan dengan berfokus pada objek. Jika ada cukup konsentrasi, ia membawa pada keadaan terabsorpsi pertama.
 

JHANA dalam METTA BHAVANA

Pikiran selalu dapat fokus pada wajah teman anda melalui VITAKKA atau penempatan awal pikiran. Ia tidak dapat keluar ke mana pun. VICARA atau penempatan pikiran yang berkesinambungan juga menempatkannya lekat pada objek anda. Pikiran memiliki PITI atau kegairahan serta SUKHA atau suka cita terhadap objek ini. Karena EKAGGATA atau keterpusatan pikiran, ia tidak bisa terpisah darinya. Ketika kelima faktor ini bekerja bersama secara harmoni, hasilnya adalah JHANA pertama atau tingkat absorpsi pertama.

Karena kekuatan konsentrasi anda meningkat, VITAKKA atau penempatan awal pikiran tidak lagi diperlukan karena objek tak bisa lagi dipisahkan dari pikiran. Sisa empat faktor lainnya secara bersama membentuk tingkat absorpsi kedua.

Selanjutnya, dengan meningkatkan kekuatan SAMADHI atau konsentrasi anda, tidak diperlukan lagi VICARA atau penempatan pikiran yang berkesinambungan untuk mengikat objek pada pikiran. Keadaan dengan sisa tiga faktor yang berlabuh bersama pada wajah teman anda disebut JHANA ketiga.
Inilah bagaimana anda dapat memperkuat METTA sampai pada JHANA ketiga yang dicapai ketika konsentrasi anda menjadi kuat. Pada tingkat ini keadaan mental METTA disebut CETO-VIMUTTI. Artinya batin menyeluruh bebas dari kebencian. Hanya METTA biasa saja adalah tanpa CETO-VIMUTTI karena ia tidak sekuat seperti yang ada pada JHANA.

Ketika mencapai tingkatan ketiga anda harus menguji METTA anda dengan cara ini: anda mengalihkannya dari yang anda cintai kepada seseorang yang bukannya anda sukai maupun benci. Jika sikap cinta-kasih anda untuk orang itu berubah, maka METTA anda belum cukup kuat. Anda harus praktik lebih lanjut pada teman yang anda sukai. Jika tidak ada perbedaan dalam sikap anda diantara dua orang itu, maka METTA anda sudah kokoh.

Selanjutnya alihkan METTA pada yang selanjutnya –musuh anda atau seseorang yang anda benci. Mungkin kebencian atau kemarahan itu timbul. Jika demikian anda perlu praktik lagi untuk orang yang anda cintai. Ketika cinta-kasih berkembang, kebencian tidak akan muncul lagi pada musuh anda. METTA anda menjadi terkuat pada tingkatan ini ketika anda tidak dapat melihat perbedaan di antara empat ini: diri anda sendiri, yang anda cintai, orang asing, dan musuh anda. Anda melihat mereka seperti kesatuan. Pada tingkatan ini METTA anda telah menghancurkan rintangan-rintangan. Sekarang tidak ada batasan lagi: tidak ada diskriminasi karena semua adalah sama di bawah kekuatan METTA anda.

Saya akan berikan ilustrasi. Zaman dahulu kala para pendeta yang tinggal di hutan biasa mempraktikkan pengurbanan manusia. Katakanlah mereka mendatangi kelompok empat orang ini termasuk anda untuk meminta seorang korban untuk diberikan pada mereka. Dari yang empat ini –anda, teman dekat anda, seseorang yang biasa saja, dan musuh anda— siapakah yang anda pilih? Jika anda berpikir, “Oh, biarlah yang tiga bertahan. Saya yang akan berkorban.” Ini menunjukkan anda kurang menghargai diri anda sendiri, METTA anda belum dibagikan secara merata. Jika pilihan anda jatuh pada musuh anda, ini menunjukkan kebencian anda padanya masih tetap ada.

Atau anda berkata, ”Tidak mungkin memilih yang mana pun. Karena semuanya sama, tak seorang pun bisa dipilih.”
METTA anda telah melampaui rintangan-rintangan. Anda mampu memancarkan cinta-kasih terhadap semua makhluk hidup. Kebencian tak dapat muncul dalam diri anda.
 

Beralih ke VIPASSANA

Pada tingkatan ini, dengan landasan konsentrasi METTA, anda bisa berpindah ke meditasi VIPASSANA atau pandangan terang. Selanjutnya anda perlu mengganti objek anda. Objek METTA adalah konsep terhadap makhluk hidup. Ia tidak dapat digunakan sebagai objek VIPASSANA. Oleh karena itu pikiran harus fokus pada keadaan mental METTA yang terutama ADOSA atau anti-kebencian. Keadaan mental METTA ini adalah NAMA (mentalitas) dengan sifat individunya yang condong pada objeknya. Keadaan mental METTA ini timbul bergantung pada landasan materi yang disebut HADAYA VATTHU atau landasan hati. VATTHU ini adalah RUPA atau materi. Mencatat tepat pada saat ini menjadikan anda mengetahui perbedaan antara NAMA dan RUPA. Dengan jelas memahami keadaan mental METTA sebagai NAMA dan landasan di mana METTA timbul sebagai RUPA, anda melihat sesuatu sebagai mereka adanya. Pengetahuan anda disebut pengetahuan analitik tentang batin dan materi (NAMA-RUPA PARICCHEDA NANA).

Setelah itu karena pengetahuan anda meningkat, anda dapat jelas melihat sebab dari keadaan mental METTA serta sebab dari landasan sifat-sifat materinya. Pengetahuan ini adalah PACCAYA-PARIGGAHA NANA atau pengetahuan tentang hubungan sebab dan akibat.

Bergantung pada dua macam pengetahuan ini sebagai landasan, anda jelas melihat lebih banyak lagi bahwa semua jenis batin dan materi itu tidak kekal. Timbul dan tenggelamnya mereka yang terus menerus sungguh mengganggu. Anda tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan keadaan ini. Anda jelas memahami ANICCA-DUKKHA-ANATTA atau ketidak-kekalan – ketidak-memuaskan – tanpa diri. Pengetahuan ini adalah SAMMASANA NANA atau pengetahuan tentang pemeriksaan. Lalu anda dapat mencatat setiap saat dari timbul-tenggelamnya NAMA-RUPA. Ini adalah UDAYABBAYA NANA atau pengetahuan tentang muncul dan lenyap. Setelah itu anda melihat hanya lenyap saja dengan begitu cepat. Pengetahuan pada tingkat ini adalah BHANGA NANA atau pengetahuan tentang peleburan. Ini adalah tingkat ANICCA atau ketidak-kekalan yang tertinggi.

Setelah itu, anda memahami tidak hanya NAMA-RUPA adalah ANICCA-DUKKHA-ANATTA, anda melihatnya sebagai menakutkan, BHAYA NANA atau pengetahuan tentang segala sesuatu sebagai menakutkan; sebagai membahayakan ADINAVA NANA atau pengetahuan tentang segala sesuatu sebagai membahayakan; sebagai tanpa-kenikmatan NIBBIDA NANA atau pengetahuan tentang kekecewaan; sebagai keinginan untuk meninggalkan MUNCITUKAMYATA NANA atau pengetahuan tentang keinginan untuk pembebasan; dan sebagai perenungan kembali pada situasi PATISANKHA NANA atau pengetahuan tentang refleksi.

Selanjutnya anda mengalami keseimbangan dalam mengamati sifat SANKHARA atau hal-hal berkondisi. Pengetahuan itu adalah SANKHARUPEKHA NANA atau pengetahuan tentang keseimbangan terhadap hal-hal berkondisi. Karena anda mencapai tingkatan ini, selangkah demi selangkah pengetahuan anda menjadi masak. Melalui NANA ini anda dapat mencapai SOTAPATTI MAGGA dan PHALA, atau Jalan dan Buah dari Pemasuk Arus, SAKADAGAMI MAGGA dan PHALA atau Jalan dan Buah dari Yang Sekali Kembali, serta ANAGAMI MAGGA dan PHALA atau Jalan dan Buah dari Yang Tidak Kembali.

Ketika anda mencapai SOTAPATTI MAGGA, kebencian yang dapat membawa pada APAYA atau lahir kembali dalam keadaan-keadaan menyedihkan disingkirkan. Pada tingkat SAKADAGAMI, sisa kebencian berkurang lebih banyak lagi. Ketika anda menjadi ANAGAMI, semua jejak kebencian di hati dicabut. Mutlak dikosongkan, tak bersisa sama sekali.
Jadi hanya melalui SAMADHI METTA-JHANA kebencian ditaklukkan. Meskipun demikian ia tetap dalam keadaan positif dalam hati. Ketika anda mencapai ANAGAMI MAGGA ia menjadi negatif –tak ada kesempatan baginya untuk timbul lagi.

Oleh karena itu ANAGAMAI MAGGA dan PHALA merupakan jalan keluar bagi kebencian. Saat itu anda akan memiliki batin yang selalu damai tanpa kebencian. Karena itulah Buddha menyebutnya “METTA CETO-VIMUTTI” –jalan keluar untuk kebencian.
 

Jalan Keluar untuk Kekejaman

Selanjutnya kita mencari jalan keluar yang lain. Sekarang dan sekali lagi orang menjadi marah: ia merupakan emosi yang biasa pada semua orang. Orangtua marah pada anak-anak mereka; kakak dan adik marah satu dengan yang lainnya. Dalam kemarahan mereka, mereka tak pernah berpikir seperti: “Saya ingin membunuhnya.” Meskipun marah, mereka tak pernah berpikir seperti itu. Tak ada kekejaman yang muncul dalam batin mereka.

Hanya pada saat orang tidak dapat mengendalikan kemarahannya maka kekejaman timbul. Emosi ini disebut VIHIMSA atau kekejaman. Dalam batin ada pikiran untuk bertindak kejam, menganiaya atau menyiksa. Itu harus ditaklukkan. Jika tidak ia akan membawa kita memukul atau bahkan membunuh orang lain. Ketika kekejaman muncul dalam pikiran, apakah jalan keluarnya?
KARUNA atau belas-kasihan adalah jalan keluarnya. Dalam kasus seperti itu kita seharusnya mengembangkan belas-kasihan untuk mereka yang tidak beruntung atau dalam kesulitan; untuk mereka yang menderita penyakit atau pengangguran dan miskin, serta yang kekurangan makanan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Dengan mempertimbangkan situasi mereka, kita seharusnya mengambil sikap ini: “Semoga orang-orang ini bebas dari penderitaan seperti itu.”
Ketika belas-kasihan telah berkembang dengan baik dalam diri kita, tingkat-tingkat JHANA dapat dicapai seperti dalam praktik METTA. Ia juga membawa pada pelenyapan kekejaman karena KARUNA adalah jalan keluar untuk kekejaman.
 

Jalan Keluar untuk Iri-Hati

Orang selalu membandingkan diri mereka sendiri dengan pihak lain: apakah lawan, tetangga, kenalan mereka atau bahkan seorang asing. Emosi yang disebut iri-hati lalu berwujud dengan pikiran. Dalam kompetisi jika saingan mengalahkannya, atau jika seorang tetangga berhasil dalam usaha, lalu muncul perasaan tidak bahagia yang disebut ISSA atau iri-hati dalam diri orang yang tidak berhasil. Keadaan mental ini tidak menyukai keberhasilan pihak lain. Jika dibiarkan tidak terkendali, ia dapat menyebabkan kerugian pada pihak lain.
Ada kejadian sebenarnya yang dilaporkan dalam koran: Dalam kompetisi wanita seluncur-es di Amerika Serikat, pemegang juara sekarang menjadi iri-hati pada pemain seluncur yang lain. Saingan ini lebih memenuhi syarat merupakan bahaya bagi mahkotanya. Jadi juara yang sekarang menyewa seseorang untuk mematahkan kakinya sehingga ia tidak dapat bertanding. Iri-hati menyebabkannya mencelakakan orang lain.

Ketika keadaan mental menyusahkan ini mempengaruhi pikiran kita, kita tidak dapat bersabar menghadapi keberhasilan orang lain. Lalu bagaimana kita menemukan jalan keluarnya? Buddha mengatakan, “Praktik MUDITA atau ikut bergembira adalah jalan keluar sejati untuk iri-hati.”
Jika anda mau mengembangkan MUDITA anda harus fokus pada mereka yang sukses atau pandai. Anda seharusnya berpegang pada sikap ini: “Semoga mereka tidak pernah kehilangan keberuntungan mereka. Semoga mereka selalu berbahagia. Semoga mereka selalu sukses.” Sikap seperti itu harus dikembangkan berulang kali sampai anda mencapai tingkat JHANA ketiga. Sejak itu iri-hati tak dapat muncul dalam pikiran, menjaga anda berbicara secara positif terhadap mereka yang sudah berhasil. Jadi ikut bergembira adalah jalan keluar dari iri-hati.
 

Jalan Keluar untuk Cinta dan Benci

Jalan keluar yang selanjutnya berkenaan dengan nafsu seperti cinta dan benci. Setiap orang merasakan satu atau yang lainnya pada saat yang berbeda. Dicengkram oleh cinta, anda merasakan nafsunya. Diterkam oleh benci, anda merasakan kegeramannya. Kedua emosi ini merupakan ekstrim karena tidak ada keseimbangan dalam batin. Pada saat seperti itu pikiran tidaklah tenang. Untuk bebas dari ekstrim mental seperti itu, apa yang seharusnya dikerjakan? Anda harus mengembangkan UPEKKHA atau keseimbangan batin. Bagaimana anda mengembangkan keadaan mental seperti itu?

Fokus pada makhluk hidup, anda merenungkan ini, “SABBE SATTA KAMMASSAKA. Semua makhluk mempunyai KAMMA mereka sendiri sebagai harta mereka. Mengikuti KAMMA mereka, mereka harus berkeliling mengembara dalam SAMSARA. Jika saya mencintai mereka, mereka tetap harus bergantung pada KAMMA mereka sendiri. Sama halnya jika saya membenci mereka, mereka juga akan sama seperti KAMMA mereka sendiri. Saya harus menghindari mencintai dan membenci mereka. Dengan melakukan itu, saya akan menjaga batin saya tenang dan damai.” Inilah keadaan UPEKKHA. Menjaga sikap seperti itu terhadap makhluk hidup merupakan praktik mulia. Karena ia menghindari dua ekstrim cinta dan benci, ia merupakan jalan keluar untuk nafsu yang kuat ini.

Anda harus mengembangkan keseimbangan sampai pada tingkatan JHANA ketiga. Pada titik ini dengan keberhasilan dalam praktik anda, UPEKKHA yang anda miliki menjadi CETO-VIMUTTI. Selanjutnya batin bebas dari kerinduan atau kebencian. Dengan mengikuti praktik ini secara sistimatis, anda dapat menemukan jalan keluar untuk cinta dan benci.
 

Jalan Keluar untuk Pemahaman tentang Kekekalan

Jalan keluar selanjutnya adalah tentang praktik VIPASSANA (meditasi pandangan terang). Apa pun yang kita lihat –apakah diri kita sendiri atau sekeliling kita —kita pikir abadi. Pemikiran yang tak wajar ini telah muncul dalam batin kita. Jika kita mengikuti teknik VIPASSANA dalam meditasi, kita dapat melihat bahwa setiap hal yang berkondisi selalu berubah detik demi detik. Dengan cara ini kita memahami bahwa semua hal yang berkondisi adalah tidak kekal.

Kita perlu mengembangkan pemahaman terhadap ANICCA atau ketidak-kekalan. Dengan melihat ANICCA, kita dapat menyingkirkan pemahaman tentang NICCA atau kekekalan. Ketika ANICCA SANNA (pemahaman tentang ketidak-kekalan) telah berkembang cukup kuat, pemahaman tentang kekekalan tidak bisa muncul.
ANICCA SANNA adalah jalan keluar untuk pemahaman tentang kekekalan dengan cara pematangan pengetahuan pandangan terang VIPASSANA. Melalui pengetahuan ini kita bisa mengurangi atau menyingkirkan kemelekatan atau kecemasan.
 

Jalan Keluar untuk MANA

MANA adalah keadaan mental yang disebut kesombongan. Saat ia muncul ia menyebabkan kita berpikir, “Aku.” “Aku” ini berdasarkan kecakapan atau kualitas seseorang. Dalam naskah Pali MANA disebut “ASMI MANA”, artinya kesombongan yang berkenaan dengan “Aku.”

MANA tidak hanya tentang keunggulan seseorang terhadap orang lain. Ia mencakup kedua sikap yang bertentangan ini: “Aku demikian pandai, aku bisa mengerti,” dan “Aku begini bodoh, aku tidak bisa mengerti.” Sama halnya dengan, “Ini terlalu lanjut untukku,” dan “Ini terlalu sederhana untukku.” Semua sikap ini menunjukkan MANA.
Secara ringkas MANA timbul dalam diri kita berdasarkan kecakapan dan kualitas kita —baik atau buruk. Sikap seperti itu merintangi pengetahuan yang lebih tinggi. Untuk menyingkirkan sikap seperti itu kita perlu mengikuti praktik VIPASSANA.

Melalui meditasi pandangan terang kita dapat mencapai MAGGA dan PHALA (jalan dan buah) sampai yang keempat. Hanya dengan menggunakan jalan keempat MANA bisa sepenuhnya disingkirkan. Oleh karena itu jalan keempat adalah jalan keluar untuk MANA.
 

Kesimpulan

Jalan keluar untuk pikiran seperti yang diajarkan oleh Buddha dalam NISSARANA SUTTA merupakan teknik-teknik sejati yang bisa diambil untuk dipraktikkan. Dengan mengikuti cara-cara ini kita dapat dibimbing menuju pembebasan.
Para pendengar saya yang terkasih, anda harus menggunakan jalan keluar mental ini. Jika anda melakukan itu, anda bisa membebaskan pikiran anda dari penderitaan apa pun karena emosi cinta dan benci, kekejaman dan iri-hati yang berlebihan misalnya. Anda akan mampu memahami sifat SANKHARA atau hal-hal berkondisi di mana tidak ada tanda kekekalan. Anda bisa mengikuti jalan keluar MANA.

Anda akan mengerti untuk diri anda sendiri melalui pengalam anda sendiri bahwa apa yang Buddha tunjukkan adalah benar, praktis dan bermanfaat.
Anda akan memahami bahwa dengan mengikuti teknik-teknik Beliau, anda pasti akan mencapai kebahagiaan yang sejati. Semoga anda bisa mencapai kedamaian ini dengan mengikuti jalan keluar Buddha untuk pikiran.

 

SADHU ……… SADHU ……… SADHU

Catatan kaki:
1) Dalam buku beliau VANCANA DIPANI (Penjelasan tentang Ketidak-jujuran), ditulis di Mandalay Utara selama masa pemerintahan Raja Mindon.