Adanta Agutta Sutta, Salayatana Vagga, Samyutta Nikaya

ISMC - Jakarta
 
Dhammadesana ini diberikan oleh Buddha, pada saat Beliau berdiam di Jetavana, persembahan Anathapindika, di Savathi.

Buddha menjelaskan kepada para Bhikkhu, jika 6 pintu indera; mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan batin tidak dilatih berperhatian penuh, maka akan menyebabkan penderitaan.

Adanta berarti tidak terlatih. Ketika kita tidak terlatih, maka akan muncul kilesa/kekotoran batin; tetapi jika kita terlatih, kilesa tidak akan muncul. Ketika hal-hal menyenangkan yang tertangkap, muncul lobha/keserakahan dalam diri kita; ketika yang tertangkap adalah hal-hal yang tidak diminati, muncullah dosa/kebencian. Tetapi ketika kita mampu mengamati, maka lobha dan dosa tidak akan muncul.

Sejak kita dilahirkan kita mempunyai 6 indera yang meningkat kemampuannya untuk mengetahui. Misalnya dengan mata kita dapat melihat. Sejak kita mulai bisa mengerti dan lebih tau, saat melihat sesuatu yang kita sukai akan timbul kemelekatan. Apabila yang dilihat tidak menyenangkan, muncul kemarahan atau kesedihan.

Sebetulnya kita harus mempraktikkan perhatian penuh ketika melihat, kita amati dengan pencatatan, ‘melihat...melihat’ sehingga tidak timbul kemelekatan atau kemarahan.

Buddha berpesan kepada para Bhikkhu, jika tidak perlu, jangan dilihat; jika perlu, maka harus dilihat dengan berperhatian penuh.

Demikian pula untuk pintu-pintu indera yang lainnya, harus dilakukan seperti di atas.

Di sini, pada saat para yogi melatih perhatian penuh, dengan memejamkan mata mengamati gerakan kembang dan kempisnya perut; ketika mengamati, yogi bisa melihat gambar orang yang disukai atau tidak, film, musik dsb. Dalam kehidupan sehari-hari gambaran itu tidak jelas, karena kita sibuk. Pada waktu kita mempraktikkan perhatian penuh, semuanya akan tampak jelas. Rekamanan ini terjadi karena di masa lalu kita tidak menyadarinya, sehingga semua tersimpam dalam batin kita. Pada saat kita praktik perhatian penuh mereka bisa muncul. Ketika mereka muncul, kita harus mengamati dengan pencatatan sampai mereka menghilang.

Dari semua pintu indera: mata, telingan, hidung, lidah, tubuh dan batin bisa muncul kilesa. Oleh karena itu Buddha menyatakan agar kita mengamatinya dengan cermat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat kita berlatih meditasi, harus berperhatian penuh sehingga kilesa tidak akan muncul dan muncul lagi.