Sacitta Sutta, Dasakanipata, Anguttara Nikaya

ISMC - Jakarta
 
Pada suatu ketika Buddha sedang berdiam di Jetavana, Savathi. Pada saat itu Buddha memberikan nasihat agar para Bhikkhu/yogi mengamati pikirannya sendiri. Buddha mengatakan agar jangan mengamati pikiran orang lain.

Buddha memberikan perumpamaan dengan muda mudi yang akan keluar. Mereka akan bercermin apakah pakaian, perhiasan dan dandanannya sudah baik. Jika ada yang kurang, mereka berusaha menggantikannya. Ketika semua rapi, mereka merasa berbahagia.

Para yogi setiap hari harus mengamati dan merefleksikan pikirannya sendiri, seperti muda mudi yang bercermin, seperti apakah pikirannya. Dengan cara begitu yogi akan mendapatkan manfaat.

Yogi harus melihat apakah pikirannya penuh keserakahan, nafsu keinginan, kemarahan.

Dengan kebijaksanaan, kita dapat mengubah pikiran kita. Meski hari ini baik, ia bisa berubah menjadi marah, cemas. Pikiran ini cepat sekali berubah.

Pikiran ini berubah disebabkan oleh kilesa. Sebetulnya orang lain tidak bersalah, tetapi karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita menjadi marah.

Kita harus selalu mengamati apakah pikiran kita penuh dengan kilesa atau tidak.

Kita harus berusaha untuk mencabut kilesa dengan mengamati dan mengerahkan usaha yang gigih. Jika ia muncul lagi, jangan menyerah, jangan melarikan diri. Harus selalu mengerahkan usaha, memiliki pengetahuan yang memadai, dan terus praktik.

Buddha memberikan contoh dengan orang yang terbakar rambut dan pakaiannya. Ia berusaha memadamkannya. Demikian juga ketika kita melihat lobha, dosa, moha, kita harus mengerahkan usaha untuk mencabutnya dengan mempraktikkan meditasi Vipassana. Jangan menyerah.

Kita mempraktikkan perhatian penuh, meditasi duduk, meditasi jalan, untuk melihat diri sendiri. Kita mengamati kilesa, sampai ia lenyap. Praktik ini menyukai tanpa kilesa.

Buddha mengajarkan Budhha Dhamma yang tanpa kilesa, yang memberikan kebahagiaan sejati. Sebelumnya kita berbahagia dengan sesuatu yang berhubungan dengan lobha, dosa,moha. Dalam Dhamma kita berbahagia tanpa lobha, dosa, moha. Kebahagiaan ini berbeda dan sulit dicapai, karena orang terbiasa menikmati kilesa. Kita perlu waktu untuk mencabut kilesa. Tetapi kita percaya bahwa ini adalah kebahagiaan lain yang tanpa lobha, dosa, moha.

Buddha menjamin bahwa kita bisa mencabut kilesa, karena Buddha sendiri telah tuntas mencabut semua kilesa.