Pathamagelanna Sutta, Salayatana Vagga

(Ceramah Dhamma Sayadaw U Jatila di ISMC – Bakom)
 
Pada suatu ketika Buddha sedang berdiam di Vesali, di Mahavana. Setelah Beliau selesai bermeditasi di petang hari, Beliau bangkit untuk menengok seorang Bhikkhu yang sakit.

Buddha mengajar sesuai dengan kondisi Bhikkhu itu. Karena sakit, ia menderita, banyak mengeluh, cemas dan kurang berperhatian penuh. Oleh karena itu Buddha mengajarkan agar ia berperhatian penuh dan menyadari batin dan jasmaninya. Buddha mengajar pada Bhikkhu/yogi bagaimana mempraktikkan perhatian penuh.

Buddha sebelumnya telah mengajarkan praktik perhatian penuh ini, tetapi Beliau tetap dan sering mengajarkannya karena selalu ada Bhikkhu baru yang datang, belajar, dan setelah mengerti lalu pergi untuk mempraktikkannya. Buddha mengajarkan perhatian penuh ini berdasarkan pada Empat Landasan Perhatian Penuh, mengamati batin – jasmani dengan usaha yang gigih, pengetahuan yang memadai dan berperhatian penuh. Buddha mengajarkan agar kita mengamati tubuh, perasaan, pikiran, serta apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan dan disentuh dengan berperhatian penuh. Bhikkhu/yogi harus mengamati batin – jasmani dengan baik dan rinci, sehingga dapat memahami dengan jernih.

Ketika yogi melakukan meditasi jalan, maju dan putar balik, harus dilakukan dengan cermat dan berperhatian penuh. Yogi bisa melihat kehendak untuk berjalan, mau mengangkat, mengangkat; mau meletakkan, meletakkan. Orang pada umumnya berjalan asal berjalan. Ketika telah tiba di tempat, tidak tau apa yang terjadi. Yogi harus cermat sehingga dapat melihat seluruh prosesnya. Karena ada keinginan mengangkat, kaki diangkat; mau meletakkan, diletakkan. Sebetulnya tidak ada ‘aku’ yang berjalan, hanya proses batin – jasmani, batin menginginkan, jasmani bergerak.

Setiap saat diamati, hanya melihat proses batin – jasmani saja. Tidak ada perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan; tetapi hanya proses perasaan/vedana saja. Mengingat, ini hanya proses pencerapan/sanna saja. Menghendaki, karena proses bentuk pikiran/sankhara saja. Mengetahui, karena proses kesadaran/vinnana saja. Hanya lima khandha/gugus kehidupan saja. Para yogi harus menyadari secara detil ketika maju, berbalik, menekuk, meluruskan, melihat, makan, mengunyah, menelan, minum, berdiri, tidur, berbicara, tidak berbicara, harus menggunakan waktu untuk mempraktikkan perhatian penuh secara terinci.

Yogi yang mempraktikkan perhatian penuh mengamati batin – jasmani dengan usaha yang gigih, kadang dapat melihat perasaan menyenangkan. Yogi harus mengetahui ada perasaan menyenangkan dalam dirinya. Perasaan menyenangkan ini muncul karena kondisi, yaitu jasmani. Jasmani ini tidaklah kekal, berubah/anicca karena cuaca, makanan, pikiran, kamma dsb. Meskipun berubah, perasaan itu muncul karena kondisi tubuh. Oleh karena itu bagaimana mungkin perasaan bisa kekal/nicca? Ketika yogi berganti mengamati perasaan, ia akan melihat bahwa perasaan itu muncul dan lenyap, sehingga tidak timbul kemelekatan. Yogi yang melihat perasaan menyenangkan muncul dan lenyap, bisa mencabut kemelekatan karena tidak ada yang bisa dilekati.

Yogi yang mempraktikkan perhatian penuh dengan usaha yang gigih juga bisa melihat perasaan tidak menyenangkan. Yogi paham bahwa perasaan tidak menyenangkan ini muncul karena adanya tubuh. Kalau tidak ada jasmani, perasaan tidak menyenangkan pun tidak muncul. Tubuh ini berubah karena cuaca, makanan dsb. Bagaimana perasaan tidak menyenangkan bisa dianggap abadi? Yogi bisa melihatnya sebagai tidak kekal/anicca, sehingga tidak muncul kemarahan, yogi bisa melepas. Dengan melihat bahwa tubuh dan perasaan tidak menyenangkan berubah, yogi bisa mencabut kebencian.

Yogi yang mempraktikkan perhatian penuh dengan usaha yang gigih, bisa melihat perasaan tidak sedih maupun tidak gembira/adukha – asukha vedana yang muncul karena jasmani. Karena bisa melihat dengan jernih, yogi bisa mencabut kebodohan.

Ketika mempraktikkan Vipassana, yogi melihat sukha misalnya perasaan tenang, dukha misalnya rasa sakit, asukha – adukha vedana sulit untuk dilihat. Ketika praktik perhatian penuh yogi sudah sangat maju, ia mampu melihat asukha – adukha vedana, menjadi seimbang, sampai mencapai sankharupekkha-nana. Yogi mampu melihat dengan jernih proses batin – jasmani, tidak hanya pada meditasi duduk, tetapi dalam meditasi jalan pun semua diamati secara alami, tidak memerlukan pengerahan usaha, semuanya otomatis ke objeknya, tanpa ada yang terlewati.

Pada saat melihat perasaan menyenangkan berubah, yogi memahaminya sehingga tidak timbul kemelekatan; melihat perasaan tidak menyenangkan berubah, ia tidak menjadi marah; melihat asukha – adukha vedana berubah, ia tidak melekat. Melihat dengan tanpa kemelekatan yogi bisa memahami bahwa batin – jasmani itu muncul dan lenyap. Tanpa adanya batin – jasmani, tak akan muncul perasaan. Yogi memahami bahwa sukha, dukha, upekkha/seimbang itu muncul karena jasmani. Mereka selalu berubah. Tanpa adanya tubuh sebagai kondisi, tak akan muncul perasaan. Mereka menjadi damai, tanpa kekotoran batin, dan mencapai Nibbana.

Ketika yogi mampu melihat sukha, dukha, upekkha vedana, yogi harus tetap mengamatinya dengan cermat, bahwa sukha, dukha, upekkha vedana selalu berubah, sehingga tidak muncul keserakahan, kebencian dan kebodohan terhadap objeknya.

Buddha mengajari Bhikkhu yang sakit itu untuk melihat perasaan tidak menyenangkan pada batin – jasmani. Buddha mengajarkan bagaimana mempraktikkan Empat Landasan Perhatian Penuh dengan cermat dan rinci. Ketika melihat bahwa perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan itu berubah, tubuh pun berubah; kita menjadi tenang.