Avaranata Sutta, Chakkanipata

Sayadaw U Jatila at ISMC Bakom

Ada 6 hal yang walaupun seseorang mendengarkan Dhamma, mempraktikkan meditasi Vipassana, pasti tidak dapat mencapai Magga, Phala dan Nibbana dalam kehidupan ini.
 
Keenam hal itu adalah:
  • 1. Rintangan kamma/kamma yang sangat berat, seperti membunuh ibu, ayah, Arahanta, memecah-belah Sangha dan melukai Buddha.
  • 2. Rintangan kilesa/kekotoran batin. ada 62 pandangan salah, antara lain tidak mempercayai hukum sebab - akibat, kusala dan akusala. karena tidak percaya, orang tidak melakukan kebaikan/kusala.
  • 3. Rintangan vipaka/hasil. meski terlahir sebagai manusia, tetapi cara berpikirnya seperti anak-anak, masih harus disuapi, dimandikan. meski menjadi manusia karena hasil perbuatan baiknya/kusala, ia tidak mampu mendengarkan dan mempraktikkan Dhamma; beberapa mengetahui, tetapi tidak cukup cerdas, sehingga tidak dapat mencapai Magga, Phala, Nibbana.
  • 4. Tidak mempunyai keyakinan. seseorang bekerja seharian tidak merasa lelah karena untuk mendapatkan uang. tetapi ketika harus praktik meditasi 1 jam saja terasa begitu sulit. Ini karena kurangnya keyakinan kepada Buddha - Dhamma - Sangha. Dhamma yang diajarkan oleh Buddha bukanlah khayalan. Beliau mempraktikkannya sendiri selama 6 tahun di hutan sampai mencapai pengetahuan-pengetahuan pandangan terang, dan mencapai Magga - Phala - Nibbana. kemudian mengajarkan Dhamma itu berdasarkan pengalaman pribadi.
  • 5. Tidak mempunyai keinginan. ketika yogi datang, ia mempunyai keyakinan untuk praktik, tetapi ketika praktik menghadapi kesulitan, lalu menyerah. mempraktikkan meditasi memerlukan keputusan yang mantap, tidak mudah menyerah.
  • 6. Tidak mempunyai kebijaksanaan/pengetahuan. Di sini yang dimaksudkan dengan pengetahuan adalah pengetahuan praktik meditasi untuk mencapai Magga - Phala - Nibbana.
Sebetulnya, praktik meditasi perhatian penuh memang memiliki banyak tantangan. Buddha menyatakan, orang yang mengalahkan 1.000 musuh belum dinyatakan sebagai pemenang, tetapi orang yang mampu mengalahkan kekotoran batin/kilesa, dia-lah pemenang sejati.
 
Sebagai contoh Bhikkhu Sona di jaman Buddha. Beliau berasal dari keluarga kaya yang tidak pernah bekerja. beliau memutuskan untuk menjadi Bhikkhu, kemudian praktik meditasi, tetapi belum mendapatkan manfaat. Beliau berpikir untuk kembali sebagai umat awam. Buddha yang mengetahui hal itu pergi mengunjunginya. Buddha menanyakan bagaimana ketika sebagai umat awam dia memainkan gitar. Bagaimana menempatkan dawainya. jika kendur tidak menghasilkan suara yang indah. jika kencang juga tidak menghasilkan suara yang indah. dawainya harus seimbang. demikian juga ketika praktik meditasi harus seimbang antara usaha/viriya dan Samadhi. Buddha mengajarkan jalan tengah. Bhikkhu Sona berusaha lagi dan berhasil menjadi seorang Arahanta.
 
Praktik meditasi perhatian penuh tidak boleh menyerah. Ketika menghadapi kesulitan harus tetap tangguh berjuang. jangan kemudian berpindah-pindah. Jadi harus mempunyai keputusan yang mantap, tidak menyerah, dan tidak berpindah-pindah. 
 
(dari ceramah Dhamma Sayadaw U Jatila di ISMC Bakom)